POSTED: 19 Juni 2019

Sepasang suami istri dari Binong, Tangerang,  Didi  Suhrodi dan Wina Tresnawati, tidak menyangka cita-citanya akan menjadi nyata. Keinginannya untuk membuka lapangan kerja bagi anak-anak yang putus sekolah berhasil mereka wujudkan melalui usaha kue kering bernama PD Citra Sari.  Sekitar 35 orang dari 40 karyawan mereka hanyalah lulusan sekolah menengah pertama (SMP) dan rata-rata masih berusia 17 tahun.

Usaha PD Citra Sari memang belum memiliki outlet penjualan sendiri. Tapi dalam 1 bulan usaha milik pria berusia 48 tahun ini dapat menghabiskan 2000 zak atau 50 ton tepung terigu Bogasari. Berkat pencapaiannya itu, anggota Bogasari Mitra Card (BMC) ini terpilih sebagai Nominator Bogasari SME Award 2018 Kategori Platinum pada akhir tahun lalu.

Sebelum menjadi pengusaha kue, Didi hanyalah seorang penjual makanan ringan keliling menggunakan gerobak. “Awalnya bapak jualan makanan ringan di Binong, jual kue kering juga berupa pia. Tapi kue  pia itu hanya titipan dari temannya di daerah Kalibata, waktu itu terpikir untuk buat pia sendiri, di Binong, Tangerang,” kenang Wina.

Lama-kelamaan Didi tertarik ingin buka usaha sendiri. Tahun 1997 ia pun memberanikan diri menyewa dua petak kontrakan yang dijadikan tempat produksi kue kering bernama “Citra Sari”.  Kata tersebut dipilih karena saat perumusan nama usaha, sedang dibangun perumahan Citra Palm di wilayah Tangerang. Didi merintis usaha ini bersama 4 teman dekatnnya. Karena itulah di awal-awal usaha, mereka sering menyingkat nama usaha menjadi “CS” (pertemanan).

Awalnya Didi dan keempat temannya hanya memproduksi 2 macam pia, yakni rasa kacang ijo dan kacang tanah. Dalam sehari CS menghabiskan 2-3 zak terigu Segitiga Biru atau sekitar 75 kg. Saat itu pia buatannya dijual dengan harga Rp 100 per potong.

Usaha belum genap setahun, Indonesia diterpa krisis moneter tahun 1998.  Mereka pun mulai kesulitan bahan baku. Namun pria lulusan SMAN 1 Talaga, Majalengka ini tidak mau menyerah. Ia terus bersiasat agar usaha produksi tetap jalan. Dan yang pasti ia tidak mau ganti bahan baku selain tepung Bogasari karena hawatir kualitas produknya menurun.

“Menggunakan tepung dari Bogasari hasil kuenya menjadi renyah. Kualitasnya stabil dan tidak pernah mengalami kendala saat saat dimasukan ke mesin produksi milik kami,” ucap Wina.

Setelah ekonomi berangsur membaik, Didi memberanikan diri pinjam modal ke bank. Keputusannya berbuah manis, usahanya kembali bangkit dan cenderung meningkat. Tahun 2003 Didi berhasil menambah karyawannya menjadi 10 orang dan kapasitas produksinya menjadi 8 zak per hari. Usahanya meningkat pesat dan peminat produknya semakin banyak.

Tahun 2005 Didi berhasil menambah kembali kapasitas produksinya menjadi 15 zak per hari serta jumlah karyawan menjadi 15 orang.  Akan tetapi, perjalanan usahanya tidak semulus yang dibayangkan. Satu per satu teman seperjuangannya memilih jalan untuk menikah dan berhenti bekerja di dapur produksi CS. “Satu per satu temannya bapak menikah. Mereka jalan masing-masing, membuka usaha yang lain.  Jadi bapak sendiri yang meneruskannya,”  ungkap ibu 4 anak ini.

Produk Citra Sari dijual seharga Rp 30.000 per toplesnya dan dititipkan ke berbagai gerai toko di kawasan Tangerang dan Jakarta.  Masyarakat juga dapat memesan langsung ke pabrik mereka dan minimal 100 toples. Apabila kurang dari itu, biaya kirim ditanggung pembeli.

Sekitar tahun 2009 Didi berhasil membeli tanah seluas 2.000 meter persegi di kawasan Binong, Tangerang lalu dijadikan tempat produksi dan mes karyawan. Mes tersebut dapat digunakan karyawan tanpa harus membayar, atau tanpa memotong upah kerjanya setiap bulan.  Setiap tahun, Citra Sari mengadakan rekreasi bersama karyawan.

 “Mereka setahun sekali  kami ajak liburan ke tempat wisata, biasanya wisata alam. Mudah-mudahan setelah liburan otak karyawan menjadi lebih fresh dan lebih semangat dalam bekerja, sehingga  kue yang dibuat buat bisa lebih maksimal dan dapat diterima pasar,” ujar wanita tamatan SLTA 1 Ciawi, Tasikmalaya.

Hingga awal tahun 2019, PD Citra Sari sudah memiliki 5 jenis kue kering, yakni pia kacang ijo, pia kacang tanah,  kue gambang cokelat, dan gambang keju dan bolu kering.  “Seperti saat Ramadan kemarin, kami coba memenuhi kebutuhan pasar dengan membuat kue nastar. Sekarang lagi belajar membuat pia patok dari teman di Bekasi,” pungkas ibu berusia 38 tahun ini. (EGI)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan