POSTED: 11 April 2019

Di mana ada kemauan di sana ada jalan. Itulah prinsip yang dipegang teguh, Sukirno sang pemilik usaha Mie Soker di wilayah Kota Palembang. Selama 6 bulan ia bekerja serabutan sebagai kuli bangunan. Selain untuk menghidupi keluarga, ia kerap menyisihkan sebagian upahnya sebagai tabungan untuk modal usaha berjualan mie ayam.  Alhasil, usaha mie ayamnya tumbuh pesat. Bahkan kalau ditambah dengan penjualan dim sum, omzetnya bisa mencapai sekitar Rp 270 juta dalam sebulan.

Kegigihan Sukrino dalam berusaha justru berasal dari cobaan hidup yang dialami.  Ujian hidup membuahkan ketekunan, dan ketekunan membuahkan kegigihan.  Jauh sebelum menjadi juragan mie ayam, tahun 1994 ia hanyalah seorang sales buku LKS (lembar kegiatan studi). Ia sempat syok dan kalang kabut ketika ada larangan dari pemerintah menjual buku LKS.

Tahun 2000, ayah dari 3 anak ini pun menjadi pengangguran. Tak lama berselang, kakaknya memperkenalkan dunia mie ayam.  Setelah belajar banyak dari sang kakak, Sukirno mulai bertekad untuk buka usaha mie.

Awal tahun 2001 Sukirno memulai usaha dengan mendorong gerobak mie ayam buatannya sendiri dari kampung ke kampung di daerah Sungai Lilin, Kabupaten Musi Banyuasin. Terkadang dalam  sehari hanya laku 2 mangkok dengan harga Rp 2000 per porsi. Merasa tidak berhasil berjualan mie karena tidak laku, Sukirno memutuskan pindah ke Kota Palembang untuk mengembangkan usaha mie nya tersebut.

Namun, karena terbentur masalah modal, ia memutuskan bekerja sebagai kuli bangunan selama 6 bulan. Di samping untuk menghidupi anak istri, ia pun menabung mengumpulkan modal. 

Tahun 2003 Sukirno mulai fokus buka usaha mie. Dari modal tabungan sebagai kuli bangunan, ia membeli mesin mie dan memutuskan untuk berjualan mie hasil sendiri. Ia memberi merek “Mie Soker” yang berasal dari plesetan nama panggilannya.

Awal produksi, Sukirno langsung menghabiskan 2 sak terigu Cakra Kembar atau 50 kilogram per hari. Sukirno mengaku memilih tepung terigu Cakra Kembar karena mie yang dihasilkan teksturnya lebih kenyal dan tidak cepat putus.

Dalam Festival Mie Bogasari tahun 2007, Mie Soker meraih 2 penghargaan yakni sebagai Mie Favorit dan Pelayanan Terbaik. Sejak saat itu, banyak penjaja yang mengambil mie kepadanya. Ditambah saat itu harga bakso sedang meninggi, jadi banyak pedagang bakso yang beralih ke mie.

“Semenjak itulah produksi mie kami terus menaik secara perlahan. Dan saat ini, kalau di hari minggu atau hari libur bisa menghabiskan sampai 15 sak atau 375 kg terigu Cakra Kembar dalam sehari atau sekitar 11 ton per bulannya. Jumlah itu sudah luar biasa kalau menurut saya bagi kelas-kelas kami ini,” ungkapnya.

Perjalanan usahanya penuh dengan tantangan. Selama berusaha, Mie Soker sudah 10 kali berpindah tempat. Mulai dari pinggir gang, pinggir sungai, hingga sekarang di pinggir jalan. Alhasil, hingga akhir 2018 Mie Soker sudah memiliki 1 tempat produksi dan 2 outlet penjualan. Satu milik pribadi dan satu lagi masih sewa.

Total karyawannya saat ini 14 orang.  Dalam sehari jumlah Mie Soker yang laku bisa sampai 250 mangkuk dengan harga Rp 12 ribu per porsinya. Tapi sejak tahun 2015 outlet Mie Soker tidak hanya menjual mie ayam, tapi juga menyediakan mie ayam bakso, mie ayam kangkung, mie goreng dan nasi goreng.

Bahkan sejak tahun 2018 ia juga menjual dim sum produksi temannya. Hasilnya cukup menjanjikan, karena dim sum bisa menghasilkan keuntungan sebesar Rp 800 ribu per hari.  Sehingga total penjualan mie ayam dan menu lainnya di 2 outlet bisa menghasilkan omzet sekitar Rp 9 juta per hari atau Rp 230 juta per bulannya. Kedua outlet beroperasi dari pukul 7 pagi hingga 9 malam.

Kegigihan dan kesuksesan usaha anggota Bogasari Mitra Card (BMC) ini mengantarkannya sebagai nominator Bogasari SME Award 2018 untuk Kategori Gold. Desember 2018 lalu ia bangga saat dipanggil ke Jakarta untuk menerima program penghargaan dari Bogasari kepada anggota BMC yang sukses dan sudah digelar sejak tahun 2010.

 “Dengan mendapatkan penghargaan dari Bogasari akan semakin mendongkrak penjualan kami. Pembeli semakin yakin bahwa produk yang kami jual itu terjamin kualitasnya. Dengan adanya penghargaan tersebut juga kami sebagai UKM merasa dihargai oleh Bogasari,” ujar Sukirno.

Tahun 2019 ini Sukirno berencana melebarkan usahanya dengan menyediakan produk roti-rotian.  “Semoga bisa terealisasi tahun ini. Sekarang masih belajar dari ahlinya, bagaimana cara membuatnya, bagaimana tampilannya. Tapi walau ada inovasi, kami tetap akan mempertahankan penjualan mie,” harap pria berusia 43 tahun ini. (EGI/ERAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan