POSTED: 18 Februari 2019

Meski hanya mengenyam pendidikan sampai tingkat SMP, Suyut (48) berhasil menjadi juragan bakpia di Sleman,Yogyakarta. Ia bahkan berhasil memiliki 8 outlet yang tersebar di Yogyakarta dan Jawa Tengah.  Keberhasilannya itu mengantarkannya sebagai nominator Bogasari SME Award 2019 Kategori Gold.

Jauh sebelum menggapai sukses, pria asal Lumajang ini menekuni berbagai pekerjaan. Mulai dari kondektur hingga pedagang baju. Terakhir, sebelum memutuskan jadi pengusaha bakpia, ia membuka toko berbagai oleh-oleh khas Kota Yogyakarta dengan nama Family Agung di tahun 2006. Di toko itu, ia menjual aneka oleh-oleh khas Yogya seperti  baju batik, blangkon, dan lain-lain, termasuk bakpia. Tapi semuanya itu titipan orang, bukan buatannya sendiri.

Dari semua produk yang dijual, balpia paling banyak dicari tapi juga paling sering dikeluhkan. “Inilah yang membuat saya akhirnya memutuskan untuk berdagang bakpia saja, tapi buatan sendiri,” ungkap Suyut.

Berbekal pengamatan di sejumlah toko bakpia yang menjual dengan konsep “open kitchen” artinya pembeli dapat melihat langsung proses produksi di toko, Suyut pun memberanikan diri buka usaha sendiri. Pada Maret 2008 dengan mengerahkan tenaga 4 karyawan, ia membuka produksi bakpia dengan mereka “Bakpia Mutiara Jogja”.

Nama mutiara dipilih karena dianggap sesuatu yang berharga. Seperti halnya bakpia, yang merupakan ikon makanan Yogyakarta yang berharga. Selain itu, tahun 2008 di Yogyakarta sedang booming produk bakpia dengan merek angka, sehingga ia memutuskan memilih merek yang berbeda. “Agar semakin mantap dan selaras, saya juga mengganti merek toko dari Family Agung jadi Mutiara,” ucapnya.

Selama 2 tahun, produksi Bakpia Mutiara boleh dibilang masih uji coba. Pemakaian terigu Bogasari per harinya rata-rata 10-15 kilogram dan paling banyak 25 kg. Tahun 2010 akhirnya Suyut menemukan formula resep yang tepat bahkan mampu membuatnya tetap enak dan renyah selama 7 hari. Sedangkan tepung terigu yang dipakai adalah campuran Segitiga Biru dan Cakra Kembar.

Seiring berjalannya waktu, Suyut terus melakukan perbaiikan mulai dari proses produksi hingga pemasaran. Tapi yang namanya pasang surut dalam suatu bisnis tidak bisa dihindari. Seperti di masa-masa letusan Gunung Merapi yang mengakibatkan pengunjung berkurang dan berdampak pada penjualan aneka produk di sektor parawisata.

Suyut tak mau menyerah. Usahanya terus bertumbuh bahkan berhasil ekspansi ke luar Yogya. Total outletnya saat ini ada 8. Dari jumlah itu, 6 diantaranya di sekitar Yogyakarta dan 2 lagi di daerah Prambanan, Klaten, Jawa Tengah. Jumlah karyawannya pun otomatis bertambah setiap tahunnya. Dari awal usaha hanya dibantu 4 karyawan, kini sudah memiliki 47 karyawan.

Suyut yang belajar otodidak membuat bakpia terus berinovasi. Sejak tahun 2019, ada 6 varian Bakpia Mutiara Yogya, yakni kacang ijo, keju, cokelat, kacang merah, green tea dan aneka rasa. Sementara itu penjualan tidak hanya melalui oulet tapi juga secara online namun hanya untuk beberapa daerah yang terjangkau paket paket ekspres.  

Untuk meningkatkan layanan, Bakpia Mutiara Jogya juga memberikan garansi apabila produknya sudah basi sebelum hari ke-5, akan dilakukan penggantian produk atau pengembalian uang. Tergantung keinginan konsumen. “Pada Agustus 2019 ini, kami berencana membuka tempat produksi baru dengan konsep open kitchen. Jadi pembeli bisa sekaligus melihat bagaimana proses produksi Bakpia Mutiara dan bisa juga belajar praktik. Inilah inovasi kami di tahun ini,” ucap Suyut. (EGI/RAP)

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Artikel Berhubungan