POSTED: 05 Desember 2018

Wayang adalah warisan budaya yang memiliki nilai-nilai kearifan lokal. Wayang  adalah pertunjukan budaya yang perlu terus dilestarikan. Wayang tak hanya memberikan tontonan, tapi juga tuntunan sebagai pedoman hidup manusia. Demikian dikatakan Franciscus Welirang, Direktur Indofood dalam siaran pers sekaligus undangan kepada masyarakat untuk menghadiri Pagelaran Wayang Kulit di areal parkir Pabrik Bogasari, Jumat 7 Desember 2018.

Pagelaran wayang kulit dengan Lakon Semar Mbabar Jati Diri akan dibawakan dalang terkenal Ki Manteb Sudharsono, sejak Jumat pukul 8 malam sampai Sabtu subuh. “Ini merupakan bentuk ungkapan syukur Bogasari atas beroperasinya pabrik terigu pertama di Indonesia pada 29 November 1971. Melalui ulang tahun yang ke-47 ini, Bogasari ingin terus menunjukkan apresiasinya terhadap terhadap kekayaan budaya tradisional Indonesia,” ucap Direktur yang biasa disapa Franky Welirang.

Pagelaran ini terbuka bebas dan gratis untuk masyarakat umum. Bogasari juga menyediakan lahan untuk para pedagang yang ingin berjualan asesoris perwayangan. Lokasi yang disiapkan Bogasari mampu menampung ribuan orang.

Ki Manteb, dalang senior yang sudah melanglangbuana ke berbagai daerah dan pementasan akan membawakan Lakon Semar Mbabar Jati Diri. Kisahnya bermula dari kesalahpahaman Batara Guru terhadap Ki Semar karena mengumpulkan para raja dan ksatria dan tindakannya tersebut dianggap sebagai makar dengan mengangkat Ki Semar sebagai pemimpin baru. Kecurigaan tersebut tidak hanya sampai disitu saja puncaknya Ki Semar diculik oleh tokoh yang sangat sakti suruhan Dewi Permoni dan Bethara Guru.

Akan tetapi dengan kesaktian Ki Semar dengan mudah melumpuhkan penculiknya. Singkat cerita Ki Semar menuju Khayangan Suralaya guna menghadap Sang Hyang Wenang dan menjelaskan cerita sebenarnya bahwa tujuan forum tersebut adalah untuk menyadarkan para raja pemimpin negara dan ksatria agar segera melakukan pertaubatan nasional dan apa yang dilakukan Ki Semar merupakan pengejawantahan fungsi dirinya selaku pengayom para raja dan ksatria.

Akhir cerita Sang Hyang Wenang memberi dukungan dan wejangan tentang ajaran “Memayu ayuning  bawana”. Yang mana harus diwujudkan dan ditempuh secara bertahap melalui “Memayu ayuning jiwa”, “Memayu ayuning keluarga”, “Memayu ayuning sasomo”, “Memayu ayuning negara dan bangsa”. Setelah tahapan itu tercapai maka “Memayu ayuning bawana” akan tercapai pula.  

"Kalau tidak ada pagelaran seperti ini, wayang kulit akan tergerus oleh zaman. Alangkah baiknya kita sebagai generasi penerus, bisa mempertahankan hiburan rakyat ini supaya tidak hilang. Walaupun tentu sudah kalah dengan hiburan lain yang lebih disukai anak muda," ucap Franky. (RAP)

 

0

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.