POSTED: 11 December 2018

Banyak orang bermimpi ingin menjadi pengusaha. Tapi tidak semua berani mewujudkannya. Berbeda halnya dengan Toni Wijaya, pria asal Bangka Belitung yang merantau ke Jakarta selepas lulus SMA. Awalnya berniat untuk kuliah, namun tidak diteruskan. Jadilah ia bekerja di sana-sini untuk melanjutkan hidup.

Di ibukota ia pernah bekerja di toko sparepart kendaraan dan berjualan baso. Sang pacar bernama Alin yang kini menjadi istrinya, juga seorang perantauan. 10 tahun di Bangka Belitung bekerja di toko baju hingga akhirnya memutuskan meranta ke Jakarta mencari pekerjaan yang lebih baik.

Tak disangka tak diduga, kedua perantauan ini bertemu di ibukota. Alhasil tahun 2004 mereka sepakat menikah lalu pindah ke Sidoarjo. Di kota ini, mereka punya saudara yang buka usaha produksi pia. Di sanalah mereka belajar.

Toni belajar membuat  pia di Kendung Surabaya selama 1 tahun, lalu akhirnya memutuskan untuk buka usaha sendiri.  “Setelah setahun ikut saudara, dan sepertinya laku keras, akhinya saya putuskan berhenti jadi karyawan dan ingin jadi usahawan. Awal produksi hanya memakai 3 kg bahan tepung terigu per hari. Lama kelamaan berkembang menjadi 6 kg, 9 kg, dan seterusnya. Sampai akhirnya saya cari karyawan karena sudah tidak bisa kerja sendirian,” papar Toni.

Ia melihat peluang usaha produksi pia cukup menjanjikan karena banyak masyarakat yang menyukainya. Baik untuk kudapan hari-hari, kudapan di acara pesta, sunatan, pernikahan, kenduri, dan lain-lain. Bahkan pia sudah umum dijadikan sebagai bingkisan buat tamu saat mau pulang.

“Di Sidoarjo dan sekitarnya, kalau ada acara nikahan, sunatan, pengajian, pia menjadi semacam cinderamata. Sekali ada pesanan hajatan semacam ini bisa sampai 1000 kotak dengan harga Rp 13.000. Tergantung yang punya acara, mau pesan varian dan ukuran kotak seperti apa,” jelas Toni.

Ada 2 merek pia yang mereka produksi yakni Pia AL dan Calista.  Saat ini Toni dan Alin memiliki 36 karyawan, dengan rincian 28 orang di bagian produksi dan 8 orang di bagian pemasaran.

Sampai saat ini Pia AL dan Calista menggunakan terigu merek Payung dan Cakra Kembar Emas (CKE) dari Bogasari. Pemakaian CKE sekitar 300 sak per bulannya atau sama dengan 7,5 ton dan untuk terigu Payung tepung sekitar 200 sak atau 5 ton per bulan.  Produksi 1 hari menghasilkan 30 ribu pia basah dan 15 ribu pia krispy.  Setiap 1 sak terigu Bogasari bisa menghasilkan 1600 pia basah atau 1500 pia krispy.

“Dulu pernah pakai tepung merek lain, tapi kelenturannya itu nggak selentur Cakra Kembar Emas Bogasari, karena kelenturannya Cakra Kembar Emas itu sangat empuk dan lebih putih untuk hasilnya,” ucap ayah dari 2 anak ini, yang bernama Calista Wijaya usia 14 tahun dan Jonatan usia 10 tahun.

Pia basah yang dijual Toni awalnya seharga Rp 500 , tapi mulai 2013 naik menjadi Rp 1000 sampai saat ini. Varian rasa untuk pia krispy ada 3 rasa, yakni cokelat, keju dan kacang ijo. Sedangkan pia basah ada varian cokelat dan kacang ijo.  Setiap kemasan berisi 5, 6 dan 10 potong. Pemasarannya tidak hanya wilayah Jawa Timur, tapi sampai Semarang dan Bali.

“Kami berencana buka buka sekitar 3-4 outlet lagi tahu depan.  Dan bagi kami prinsipnya adalah, walau sudah punya karyawan,  tetap harus turun tangan, karena bekerja bersama pekerja itu kami rasa lebih baik. Selain itu, saat buka usaha kita harus semangat, ulet atau  kerja keras, jujur dan tidak lupa untuk inovasi produk-produk kita selanjutnya,” ucap Alin. (REM/RAP)

2

Silahkan login terlebih dahulu untuk mengirimkan komentar.
Related Artikel